Rabu, 12 Januari 2011

SUKU SAWU


Kata Pengantar

Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga alhamdulillah kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Antropologi tentang Suku Sawu.
Dalam penyusunan tugas ini,kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan,olehnya itu kritik dan saran yang sifatnya membangun dan edukatif sangat kami harapkan.
Akhirnya kami mengucapkan terima kasih banyak atas pengertiannya,dan semoga makalah ini bisa bermanfaat serta dijadikan referensi sumber ilmu pengetahuan.
                               












Kendari ,2 Desember 2011



Penulis




PENDAHULUAN

A.Latar belakang
Nenek moyang kita (Indonesia) telah mendiami kepulauan Nusantara sejak dahulu kala. Akan tetapi, walaupun tersebar di pulau-pulau berbeda, nenek moyang kita berasal dari satu ras yang sama. Dengan terpencarnya inilah maka membentuk sistem kebudayaan yang berbeda satu dengan lainnya. Dari sinilah muncul keragaman suku bangsa lengkap dengan budayanya masing-masing.
Begitu pula dengan suku Sawu,memiliki cirri khas kebudayan (adat istiadat,pola konsumsi,dsb) yang perlu di pelajari karakteristiknya,sehingga kita dapat memahaminya dengan baik.
Walaupun suku-suku bangsa tersebut memiliki perbedaan dalam budaya , tetapi semuanya menyatu membentuk negara Indonesia. Sehingga tidak salah apabila muncul istilah Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu.
Hal inilah yang mendasari kita agar senantiasa memahami dan mempelajari arti perbedaan,sehingga tumbuh rasa kecintaan terhadap perbedaan yang ada pada setiap suku bangsa di Indonesia.
B.Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang perlu di kaji antara lain:
  1. dimana letak keberadaan suku Sawu
  2. sejarah suku Sawu (adat istiadat,religi,budaya,ekonomi,sosial dsb)
  3. pola konsumsi masyarakat suku Sawu
  4. makanan khas masyarakat suku Sawu
  5. mitos tentang makanan masyarakat suku Sawu

C.Tujuan
Adapun tujuan penyususnan makalah ini antara lain :
  1. untuk mengetahui keberadaan suku Sawu
  2. untuk mengetahui sejarah suku Sawu
  3. untuk mengetahui pola konsumsi masyarakat suku Sawu
  4. untuk mengetahui makanan khas masyarakat suku Sawu
  5. untuk mengetahui mitos tentang makanan masyarakat suku Sawu
D.Manfaat
Dari uraian tujuan di atas,mnfaat yang dapat kita peroleh adalah kita mampu mengenal,memahami serta membedakan karakteristik yang dimiliki oleh suku Sawu di bandingkan dengan masarakat suku bangsa yang lainnya,baik di tinjau dari budaya,pola konsumsi,makanan khas,mitos tentang makanan mereka serta keberadaan suku Sawu dan sejarahnya.










PEMBAHASAN
A.Keberadaan Suku Sawu (Geografis)
Pulau Sabu atau Rai Hawu adalah bagian Kabupaten Kupang.Merupakan pulau terpencil dengan luas 460,78 km persegi berpenduduk sekitar 30.000 jiwa dengan sifat mobilitas tinggi. Karena itu penyebarannya keseluruh Nusa Tenggara Timur cukup menyolok. Dari Kabupaten Kupang Pulau tersebut dapat dijangkau dengan kapal laut selama 12 jam berlayar atau 45 menit dengan pesawat.
B.Sejarah
Legenda menuturkan, nenek moyang orang Sabu datang dari seberang yang disebut Bou dakka ti dara dahi, agati kolo rai ahhu rai panr huude kolo robo. Artinya, orang yang datang dari laut, dari tempat jauh sekali,lalu bermukim dipulau Sabu. Orang pertama adalah Kika Ga dan kakanya Hawu Ga.Keturunan Kika Ga inilah yang disebut orang Sabu (Do Hawu) yang ada sekarang.Nama Rai Hawu atau pulau Sabu berasal dari nama Hawu Ga, salah satu leluhur
mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat suku Sabu hidup dalam kekerabatan keluarga batih (Ayah, ibu dan anak) disebut Hewue dara ammu.
 Sistem kepercayaan
Suku bangsa Sawu atau Sabu mendiami Pulau Sawu dan Pulau Raijua di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Agama Kristen sudah masuk ke Pulau Sawu, tetapi masyarakatnya masih banyak yang memeluk kepercayaan asli.
Ada beberapa upacara yang dilaksanakan sehubungan dengan kepercayaan asli ini, antara lain:
  • Upacara menyembah dewa Deo Mone Ae (dewa yang besar). Deo Mone Ae mempunyai tiga roh, yaitu Pulodo Wadu (roh yang mengatur musim kemarau; Deo Rai (roh yang mengatur musim hujan); Deo Heleo (roh yang mengawasi kehidupan manusia).
  • Upacara kematian yang dipimpin oleh Ratu Mone Pitu (imam yang berjumlah tujuh orang). Mereka menganggap roh-roh orang yang meninggal melakukan perjalanan dari dunia nyata ke dunia gaib dengan menggunakan Ama Piga Laga (perahu roh).
  • Upacara terhindar dari penyakit yang dianggap muncul karena gangguan dari makhluk halus, yaitu roh Suanggi dan Wango. Penyakit hanya dapat disembuhkan dengan cara melakukan upacara yang dipimpin oleh Mone Molara (dukun).
Upacara-upacara yang berkaitan dengan mata pencarian misalnya memanggil nira, memasak nira, tolak bala, bersih ladang, dan menanami ladang.

Bahasa pergaulan
Pulau Sabu secara pemerintahan termasuk Kabupaten Kupang, namun dalam pembagian wilayah pesebarannya, bahasa sabu termasuk kelompok bahasa Bima – Sumba. Bahasa Sabu mencakup dialek Raijua (di pulau Raijua),dialek Mesara, Timu dan seba.

Kesenian
Kesenian yang paling menonjol adalah seni tari dan tenun ikat. Seni tari antara lain padoa dan ledo hau. Padoa ditarikan pria dan wanita sambil bergandengan tangan, berderet melingkar, menggerakkan kaki searah jarum jam, dihentakkan sesuai irama tertentu menurut nyanyian meno pejo, diiringi pedue yang diikat pada pergelangan kaki para penari. Pedue ialah anyaman daun lontar berbentuk ketupat yang diisi kacang hijau secukupnya sehingga menimbulkan suara sesuai irama kaki yang dihentak-hentakkan. Ledo Hau dilakukan berpasangan pria dan wanita diiringi gong dan tambur serta giring-giring pada kaki pria. Hentakan kaki, lenggang dan pandangan merupakan gerakan utama. Gerakan lain dalam tarian ini ialah gerakan para pria yang saling memotong dengan klewang yang menjadi perlengkapan tari para pria.
http://photos1.blogger.com/blogger/1369/3233/320/sarungsabu.jpghttp://photos1.blogger.com/blogger/1369/3233/320/pewarnasabu.jpg

Tenun ikat mereka yang terkenal adalah si hawu (sarung sabu) dan higi huri (selimut). Mereka melakukan semua proses seperti umumnya di Nusa Tengggara Timur. Benang direntangkan pada langa (kayu perentang khusus) supaya mudah mengikatnya sesuai motif, setelah dilumuri lilin. Pencelupan dilakukan dengan empat warna dasar yakni biru pekat dan hitam, diperoleh ramuannya dari nila, merah dari mengkudu dan kuning dari kunyit. Motif yang dikenal antara lain flora dan fauna serta motif geometris. Setelah itu benang tersebut direntangkan kembali pada langamane (alat tenun) untuk memulai proses tenun.
Bangunan suku bangsa Sawu merupakan rumah berbentuk panggung yang berderet di sepanjang sisi sebuah lapangan yang terletak di suatu perkampungan. Pola perkampungan ini berbentuk bulat telur dan di kedua ujung perkampungan dibuat pintu gerbang.
Mata Pencaharian
Kehidupan mereka terutama tergantung dari lahan pertanian kering, beternak, menangkap ikan, melakukan kerajinan dan berdagang serta membuat gula Sabu dari Nira lontar. Semuanya tidak dikerjakan secara terpisah.Seorang petanji mengerjakan juga pekerjaan lainnya, karena mereka memiliki kalender kerja yang bertumupu pada adat. Semuanya dikerjakan secara tradisional seperti menangkap ikan dengan lukah, bubuh, jala, pukat dan pancing.
http://photos1.blogger.com/blogger/1369/3233/320/gulungbenang.jpg
Cara berternak masih sangat tradisonal dengan melepaskan ternak tanpa kandang. Jumlah ternak justru menunjukkan status sosial seseorang. Hewan/ternak piaraan lebih berfungsi sosial ketimbang bernilai ekonomi terutama kuda, kerbau dan domba/kambing. Ternak ini sering menjadi pemenuhan kebutuhan upacara adat seperti kalahiran, perkawinan dan kematian, termasuk untuk upacara sakral, magis dan religius.
C.Pola Konsumsi
            Pola konsumsi masyarakat suku Sawu pada umumnya masih bersifat Nuturalis










DAFTAR PUSTAKA
Daniel J. Adams. 1992. Teologi Lintas Budaya, BPK Jakarta.
 
DR. Nico L. Kana 1978, Dunia Orang Sabu; disertasi, Jakarta
Soemarjono Danoewidjojo: Beberapa Segi Struktur Kemasyarakatan Sawu, Majalah Hukum Adat Tahun ke-2, no. 1 dan 2, MIPI, Yogyakarta

Tidak ada komentar: