Minggu, 17 Januari 2010

TUGAS PENGANTAR EPIDEMIOLOGI & EPIDE KLINIK

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat,rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas MAKALAH PENGANTAR EPIDEMIOLOGI DAN EPIDEMIOLOGI KLINIK ini dengan baik.
Dalam upaya menyelesaikan tugas Pengantar Epidemiologi dan Epidemiologi Klinik ini kami mengambil bahan penulisan dari Pihak Administrasi Rs. Provinsi Sultra, sumber pustaka dan internet yang sesuai dengan pembahasan tugas ini. Namun, kami menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari isi maupun teknik penulisannya. Olehnya itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dalam rangka penyempurnaan tugas makalah tentang Epidemiologi Klinik Deskriptif Infeksi Nosokomial di Rs. Provinsi Sultra.
Satu harapan yang terukir di hati semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penyusun makalah ini khususnya.



Kendari, 4 Januari 2010

Penulis




DAFTAR ISI

- KATA PENGANTAR ..............................................................................................i
- DAFTAR ISI ............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang ..........................................................................................1
b. Perumusan Masalah...................................................................................6
c. Tujuan Penelitian ......................................................................................7
d. Manfaat Penelitian.....................................................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Sejarah Infeksi Nosokomial ......................................................................9
B. Epidemiologi Infeksi Nosokomial ...........................................................10
C. Pengertian Infeksi Nosokomial ................................................................11
D. Penyebab Infeksi Nosokomial..................................................................11
E. Cara Penularan Infeksi Nosokomial.........................................................19
F. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penularan Infeksi Nosokomial........23
G. Surveilans Infeksi Nosokomial.................................................................28
H. Kerangka Pemikiran.................................................................................44
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ........................................................................................45
B. Waktu dan Tempat Penelitian .................................................................45
C. Populasi dan Sampel Penelitian ..............................................................45
D. Teknik Pengumpulan Data.......................................................................46
E. Pengolahan dan Analisa Data Penelitian..................................................46
F. Penyajian Data.........................................................................................47
G. Analisis Data ...........................................................................................47
- DAFTAR PUSTAKA
- LAMPIRAN KUISIONER

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial. Secara umum, pasien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang dari 72 jam menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum pasien masuk rumah sakit, dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 72 jam pasien berada dirumah sakit baru disebut infeksi nosokomial.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang pernah melakukan surveilans di 55 RS di Asia Tenggara, Eropa, Mediterania dan Pasifik pada tahun 1987, 8,7% pasien yang dirawat di RS mengalami infeksi nosokomial. Dari empat region tersebut, Asia Tenggara dengan besaran kasus 10% menjadi region tertinggi kasus infeksi nosokomial. Angka terendah ada di Eropa, dengan jumlah kasus 7,7%. Kasus infeksi nosokomial (infeksi yang terjadi ketika pasien dirawat di rumah sakit) di seluruh dunia rata-rata 9% dari 1,4 juta pasien rawat inap di seluruh dunia.
Infeksi nosokomial menjadi penyebab kematian utama di kebanyakan unit perawatan khusus. Dibeberapa negara Eropa dan Amerika,infeksi nosokomial berkisar 1% sedangkan di beberapa tempat di Asia, Amerika Latin, dan Sub- Sahara Afrika mencapai 4%.
Infeksi nosokomial ini dapat berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar tubuh. Infeksi endogen disebabkan oleh mikroorganisme yang semula memang sudah ada didalam tubuh dan berpindah ke tempat baru yang kita sebut dengan self infection atau auto infection, sementara infeksi eksogen (cross infection) disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari rumah sakit dan dari satu pasien ke pasien lainnya..
Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat. Di tempat ini pasien mendapatkan terapi dan perawatan untuk dapat sembuh. Tetapi, rumah sakit selain untuk mencari kesembuhan, juga merupakan depot bagi berbagai macam penyakit yang berasal dari penderita maupun dari pengunjung yang berstatus karier. Kuman penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit, seperti; udara, air, lantai, makanan dan benda-benda medis maupun non medis. Terjadinya infeksi nosokomial akan menimbulkan banyak kerugian, antara lain :
• Lama hari perawatan bertambah panjang
• Penderitaan bertambah
• Biaya meningkat
Selama 10-20 tahun belakang ini telah banyak perkembangan yang telah dibuat untuk mencari masalah utama terhadap meningkatnya angka kejadian infeksi nosokomial di banyak negara, dan dibeberapa negara, kondisinya justru sangat memprihatinkan. Keadaan ini justru memperlama waktu perawatan dan perubahan pengobatan dengan obat-obatan mahal, serta penggunaan jasa di luar rumah sakit. Karena itulah, dinegara-negara miskin dan berkembang, pencegahan infeksi nosokomial lebih diutamakan untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan pasien dirumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.
Infeksi nosokomial merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting di Brazil: dengan 11 juta perujukan ke rumah sakit per tahun dan laju infeksi nosokomial sekitar 5% sapai 10%, kami memproyeksikan 550.000 sampai 1.100.000 kasus, dengan semua kerugian terkait, termasuk finansial, penderitaan pasien dan mortalitas. Yang menjadi fokus sekarang ini adalah peningkatan efektifitas biaya perawatan kesehatan, bersama dengan laporan-laporan tentang pengendalian infeksi nosokomial yang sukses dan menstimulasi para pengurus rumah sakit, tim-tim pengendalian ifeksi dan penelitian-penelitian untuk mencoba memahami situasi lokal mereka sendiri untuk memperbaiki program perawatan kesehatan. Pengetahuan tentang prognosis mortalitas yang terkait dengan infeksi nosokomial akan memungkinkan intervensi-itervensi cepat dan program pengendalian infeksi yang lebih tertargetkan dan lebih efektif.
Penelitian deskriptif lainnya di Brazil mereview data dari 69 kematian yang terjadi dalam 48 jam setelah perujukan di tahun 1993 untuk meneliti hubungan yang mungkin antara infeksi nosokomial dan angka kematian. Infeksi nosokomial dianggap sebagai penyebab sekunder pada 51% kematian dan penyebab utama pada 30% kematian, kebanyakan pada mereka yang sakit kritis saat dirujuk
Di Indonesia, penelitian yang dilakukan di 11 rumah sakit di DKI Jakarta pada 2004 menunjukkan bahwa 9,8 persen pasien rawat inap mendapat infeksi yang baru selama dirawat.
Menurut Wakil Direktur Penunjang Medik & Pendidikan RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, dr Siti Sundari SpM. Mengatakan, infeksi nosokomial merupakan ancaman bagi pasien yang dirawat di RS terutama negara berkembang termasuk Indonesia. Itu disebabkan peralatan yang belum memadai baik kualitas maupun kuantitasnya. Selain itu, teknik isolasi yang belum baik, sikap petugas di RS terutama kepedulian terhadap kesehatan perorangan masih belum seperti diharapkan. Padahal, unsur terakhir itu merupakan aspek paling penting dalam pencegahan dan pengendaliannya.
Dicontohkan, angka kasus infeksi nosokomial di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta tahun 1996, sebanyak 66 orang terdiri atas 32 kasus bedah dan 34 nonbedah. Dari angka tersebut, masih mungkin ada kasus yang tidak terekam. Karena, menurut data di negara maju berpersentase 5-10%.
Persentase Infeksi Nosokomial yang tertinggi pada tahun 2004 terdapat di Propinsi Lampung dengan jumlah 150 pasien dari jumlah pasien yang beresiko 3.512 (4,3%) sedangkan di Propinsi Sumatera Selatan Infeksi Nosokomial tidak ada (0%) pasien dari jumlah pasien yang beresiko 5.013 (0%). terlihat bahwa Infeksi Nosokomial yang tertinggi pada tahun 2004 terdapat pada Rumah Sakit Depkes Pemda dengan jumlah 1.527 pasien dari jumlah pasien beresiko 160.417 ( 55.1% ), pada Rumah Sakit Swasta jumlah Infeksi Nosokomial 991 Pasien dari jumlah pasien beresiko 130.047 (35.8%), pada Rumah Sakit ABRI jumlah Infeksi Nosokomial 254 pasien dari jumlah pasien beresiko 1.672 (9.1%) sedangkan pada Rumah Sakit Departemen Lain Infeksi Nosokomial tidak ada (0%) meskipun pasien beresiko cukup tinggi yaitu 8.722.
Walaupun ilmu pengetahuan dan penelitian tentang mikrobiologi meningkat pesat pada 3 dekade terakhir dan sedikit demi sedikit resiko infeksi dapat dicegah, tetapi semakin meningkatnya pasien-pasien dengan penyakit immunocompromised, bakteri yang resisten antibiotik, super infeksi virus dan jamur, dan prosedur invasif, masih menyebabkan infeksi nosokomial menimbulkan kematian sebanyak 88.000 kasus setiap tahunnya.
Dari hasil studi deskriptif di semua rumah sakit di Yogyakarta tahun 1999 menunjukkan bahwa proporsi kejadian infeksi nosokomial berkisar antara 0,0% hingga 12,06%, dengan rata-rata keseluruhan 4,26%. Untuk rerata lama perawatan berkisar antara 4,3 – 11,2 hari, dengan rata-rata keseluruhan 6,7 hari. Setelah diteliti lebih lanjut maka didapatkan bahwa angka kuman lantai ruang perawatan mempunyai hubungan bermakna dengan infeksi nosokomial.
RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang merupakan ruang perawatan pasien dari berbagai macam penyakit yang kebanyakan memerlukan tindakan perawatan luka post operasi. Terbukti banyaknya kejadian infeksi luka operasi di RSUD Dr. Moewardi Surakarta tahun 2004 adalah 13,2% merupakan angka tertinggi di atas dekubitus 10,68% dan phlebitis 11,01%.








Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada Rs. Provinsi Sultra. Indikator dan unit kerja yang terlibat dalam pengumpulan data serta hasil yang diperoleh periode Juli – Oktober 2009 dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Indikator Mutu Pelayanan RSUD Provinsi Sulawesi Tenggara
Periode Juli s/d Oktober 2009

No Indikator Asal Data Hasil
Juli
2009 Agust
2009 Sept
2009 Okt.
2009
1 Angka pasien dekubitus Seruni,
Teratai 0% 0% 0% 0%
2 Angka kejadian infeksi jarum infus Seruni, Mawar, Melati, Anggrek 2,49% 4,36% 0,93% 2,4%
3 Angka ketidaklengkapan pengisian catatan medik Rekam Medis 4,71% 0,50% 0,39% 0,51%
4 Angka keterlambatan pelayanan pertama gawat darurat IGD 0% 0% 0% 0%
5 Angka infeksi luka operasi Tulip, Delima 6,25% 4,76% 8,33% 18,33%
6 Angka komplikasi pasca bedah Asoka, Delima 0% 0% 0% 0%
7 Angka masa tunggu sebelum operasi elektif lebih dari 24 jam Rekam Medis 77,02% 48,57% 52,45% 77,01%
8 Angka kematian ibu karena eklampsia Delima 0% 0% 0% 0%
9 Angka kematian ibu karena perdarahan Delima 0% 0% 0% 0%
10 Angka kematian ibu karena sepsis Delima 0% 0% 0% 0%
11 Angka perpanjangan masa rawat ibu melahirkan Delima 17,10% 13,20% 6,19% 3,13%
12 Angka kematian bayi dengan berat badan <2000gr Bayi 54,54% 61,53% 15,38% 42,85%
13 Angka sectio caesaria Delima 51,31% 28,30% 32,74% 28,12%

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Epidemiologi Klinik Deskriptif Infeksi Nosokomial di Rs. Provinsi Sultra Tahun 2009”.






C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana frekuensi dan distribusi penyebaran Infeksi Nosokomial di Rs. Provinsi Sultra Tahun 2009.
2. Tujuan Khusus
2.1 Untuk mengetahui adanya pengaruh faktor Sanitasi Lingkungan Rumah Sakit terhadap infeksi nosokomial.
2.2 Untuk mengetahui adanya pengaruh faktor Agen Infeksi terhadap infeksi nosokomial.
2.3 Untuk mengetahui adanya pengaruh faktor Status Imunitas terhadap infeksi nosokomial.
2.4 Untuk mengetahui adanya pengaruh faktor Malnutrisi terhadap infeksi nosokomial.
2.5 Untuk mengetahui adanya pengaruh faktor Kelalaian Petugas Rumah Sakit terhadap infeksi nosokomial.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi Pemerintah
Merupakan sumber informasi tingkat frekuensi dan distribusi Infeksi Nosokomial dengan metode deskriptif di Rs. Provinsi Sultra, sehingga dapat menentukan kebijakan yang berkaitan dengan hal tersebut khususnya bagi petugas pelayanan kesehatan yang terkait.
2. Manfaat bagi Ilmu Pengetahuan
Merupakan bahan bacaan dan referensi atau kajian empiris bagi penelitian selanjutnya yang relevan dan lebih mendalam.
3. Manfaat bagi Masyarakat
Dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang tingkat frekuensi dan distribusi Infeksi Nosokomial dengan metode deskriptif di Rs. Provinsi Sultra.

4. Manfaat bagi Peneliti
Merupakan suatu hal yang sangat berharga dalam mengaplikasikan dan meyumbangkan ilmu dalam menyelsaikan tugas “Pengantar Epidemiologi & Epidemiologi Klinik”, dan menambah wawasan peneliti tentang tingkat frekuensi dan distribusi infeksi nosokomial dengan metode deskriptif di Rs. Provinsi Sultra.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Sejarah Infeksi Nosokomial
Infeksi nosokomial sebenarnya bukan barang baru. Menjelang paruh kedua abad XIX Ignaz Phillip Semmelweis, seorang dokter ahli kebidanan di Wina, Austria, telah mengamati 30% dari para ibu yang melahirkan di rumah sakit menderita demam setelah melahirkan dengan angka kematian sebesar 12,24%. Sedangkan mereka yang melahirkan di rumah sendiri umumnya tidak terserang demam demikian.
Pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan penunggu pasien merupakan kelompok yang berisiko mendapat infeksi nosokomial. Infeksi ini dapat terjadi melalui penularan dari pasien kepada petugas, dari pasien ke pasien lain, dari pasien kepada pengunjung atau keluarga maupun dari petugas kepada pasien. Saat ini, infeksi nosokomial di rumah sakit di seluruh dunia lebih dari 1,4 juta pasien rawat inap.
Di Indonesia sendiri belum ada data yang pasti tentang kasus MRSA di RS di Indonesia. Diantara isolat yang diteliti lab.Mikrobiologi Klinik FKUI ditemukan bahwa MRSA (Mythycillin Resistant Staphylococcus Aureus) dari tahun ke tahun selalu meningkat (WARSA, 2004). Keadaan ini perlu diwaspadai karena pola penggunaan antibiotika di Indonesia selama ini jauh dari kontrol yang baik. Menurut dr Latre Buntaran, SpMK dari Bagian Mikrobiologi RSAB Harapan Kita menuturkan, Infeksi nasokomial berperan penting dalam penularan bakteri Gram positif di RS. Infeksi bakteri nosokomial ternyata terbanyak disebabkan oleh Gram positif (64,4%) sedangkan Gram negatif hanya 27,4% dan fungi 8,4%. Di RSAB Harapan Kita, infeksi nasokomial terbanyak masih disebabkan oleh Gram negatif. Namun ada peningkatan infeksi MRSA dari 20% di tahun 1998 menjadi 34% di tahun 2000, sedangkan antara Januari-Juni 2001 sudah terdapat 15% kasus MRSA," kata dia.

B. Epidemiologi Infeksi Nosokomial
Hampir 53 juta orang diperkirakan membawa kuman MRSA, dan para pakar memperkirakan 2 milliar orang, atau sama dengan 25 – 30% total penduduk dunia membawa bakteri Staphylococcus aureus. Pneuomonia MRSA grup, dan pasien yang mendapatkan flurokuinolone adalah salah satu populasi yang beresiko terkena MRSA.
Jumlah Infeksi Nosokomial pada tahun 2004 terdapat di Rumah Sakit Umum lebih tinggi dibanding dengan Rumah Sakit Khusus, hal ini disebabkan karena jumlah pasien yang beresiko juga lebih tinggi, yaitu 2.590 pasien dari 282.388 pasien beresiko (93,4%),sedangkan di Rumah Sakit Khusus jumlah Infeksi Nosokomial 182 pasien dari 18.470 pasien beresiko (6,6%).
Infeksi nosokomial menjadi ancaman besar terhadap kesehatan karena sekarang banyak ditemukan bakteri yang resisten (kebal) terhadap pelbagai jenis antibiotik. Kini sekitar 40% dari bakteri Staphylococcus aureus yang dapat diisolasi di rumah sakit, diketahui kebal terhadap semua antibiotik, kecuali terhadap vankomisin. Tapi suatu saat bakteri ini akan membentuk mutan (bakteri yang bermutasi dan mempunyai sifat-sifat baru) yang juga kebal terhadap gempuran vankomisin seperti vancomycin-resistant Staphylococcus aureus (VRSA) and vancomycin-resistant enterococcus (VRE).
MRSA disebabkan oleh obat-obatan iv (intra vena) sebanyak 20% dari total populasi. Diawal tahun 2005 di Inggris 3000 angka kematian akibat MRSA, dan menyerang separuh RS di Inggris dan menjadi perdebatan dan issue hebat di kebijakan kesehatan di Negara tersebut. Di Belanda sendiri, ada 3 keluarga peternak babi yang terkena MRSA dan ditemukan di hewan peliharaannya juga.
Pre eliminary studi yang dilakukan Dr Alan Johnson seorang peneliti mendapatkan 147 bayi yang terkena MRSA, dan 1/3 berusia kurang dari satu tahun. Angka ini hanya diperoleh dari dokter spesialis anak di Inggris di tahun 2006, namun masih banyak yang belum dilaporkan. Seorang ahli mikrobilogi lain dari Imperial College London dr Mark Enright menjelaskan jika terdapat hampir 150 anak terkena MRSA dalam darah maka hal tersebut signifikan dan menandakan tidak adanya kontrol terhadap infeksi ini. Dia menambahkan infeksi MRSA dalam darah biasanya mengenai 20%, maka dapat diperkirakan terdapat 750 kasus MRSA superbugs/superbakteri pada anak setiap tahunnya.

C. Pengertian Infeksi Nosokomial
Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) adalah strain spesifik dari bakteri Staphylococcus aureus yang membentuk resistensi terhadap antibiotika semua turunan penicillin dan methicillin, dan juga spectrum luas β-lactamase-resistant penicillin antibiotics.
MRSA dikenal sebagai methicillin-resistant Staphylococcus aureus. Adalah sejenis bakteri yang umum ditemukan di kulit dan nasal orang sehat/pasien, walaupun tidak berbahaya namun jika terdapat luka, abrasi, radang, insisi luka operasi, atau folley catheter dapat menyebabkan infeksi. Infeksi ini dapat bersifat ringan (nanah atau radang) atau berat (infeksi di darah/sepsis, tulang atau sendi).

D. Penyebab Infeksi Nosokomial
Penyebab infeksi dapat berupa : bakteri, virus, fungi dan parasir, penyebab utamanya adalah bakteri dan virus, kadang-kadang jamur dan jarang disebabkan oleh parasit. Peranannya dalam menyebabkan infeksi nosokomial tergantung dari patogenesis atau virulensi dan jumlahnya. Patogenesis adalah kemampuan mikroba menyebabkan penyakit, patogenitas lebih jauh dapat dinyatakan dalam virulensi dan daya invasinya. Virulensi adalah pengukuran dari beratnya suatu penyakit dan dapat diketahui dengan melihat morbiditas dan derajat penularan, Daya invasi adalah kemampuan mikroba menyerang tubuh. Jumlah mikroba yang masuk sangat menentukan timbul atau tidaknya infeksi dan bervariasi antara satu mikroba dengan mikroba lain dan antara satu host dengan host yang lain (Wirjoatmodjo B, 1993).
Sumber infeksi nosokomial dapat berasal dari pasien, petugas rumah sakit, pengunjung ataupun lingkungan rumah sakit. Selain itu setiap tindakan baik tindakan invasif maupun non invasif yang akan dilakukan pada pasien mempunyai resiko terhadap infeksi nosokomial.
Bakteri penyebab infeksi mematikan yang ditemukan di rumah sakit (RS) dapat bertahan berminggu-minggu di tempat tidur, kertas, atau keyboard komputer, demikian hasil sebuah penelitian. Infeksi tersebut banyak ditemukan pada pasien-pasien berbagai RS di AS. Pengaruhnya terhadap tubuh bisa berupa serangan ringan hingga kematian. Penyebabnya adalah bakteri meticillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) / superbugs / super bakteri, yang menimbulkan infeksi ringan hingga infeksi luka yang serius, pneumonia, atau infeksi pada darah penderita / sepsis.
Sejenis bakteri didapatkan menjadi penyebab kematian 123 pasien di beberapa RS di Victoria, Australia dan kini telah menjangkiti lebih 1,600 orang di tahun 2005. Bakteri methicillin resistant staphylococcus (MRSA) sejenis golden staphylococcus biasanya ditemui di RS dan kini ia mampu melawan antibiotik yang ada. Bakteri itu tersebar melalui sentuhan antara pasien dengan petugas RS yang tidak mencuci tangan mereka dengan steril. MRSA akan melemahkan sistem pertahanan tubuh pasien yang mengidap kanker, CVA atau penyakit lain secara mendadak.
Bakteri ini adalah satu dari beberapa jenis penyebab penyakit yang semakin sulit diatasi dengan obat-obatan konvensional. Pengaruh antibiotik dan penggunaannya yang tidak tepat dapat mengubah bakteri menjadi lebih resistan. Penelitian terakhir memperlihatkan bahwa MRSA muncul dalam jumlah yang besar di berbagai rumah sakit.

• Macam penyakit yang disebabkan oleh Infeksi Nosokomial
1. Infeksi saluran kemih
Infeksi ini merupakan kejadian tersering, sekitar 40% dari infeksi nosokomial, 80% infeksinya dihubungkan dengan penggunaan kateter urin. Walaupun tidak terlalu berbahaya, tetapi dapat menyebabkan terjadinya bakteremia dan mengakibatkan kematian. Organisme yang biaa menginfeksi biasanya E.Coli, Klebsiella, Proteus, Pseudomonas, atau Enterococcus. Infeksi yang terjadi lebih awal lebih disebabkan karena mikroorganisme endogen, sedangkan infeksi yang terjadi setelah beberapa waktu yang lama biasanya karena mikroorganisme eksogen. Sangat sulit untuk dapat mencegah penyebaran mikroorganisme sepanjang uretra yang melekat dengan permukaan dari kateter. Kebanyakan pasien akan terinfeksi setelah 1-2 minggu pemasangan kateter. Penyebab paling utama adalah kontaminasi tangan atau sarung tangan ketika pemasangan kateter, atau air yang digunakan untuk membesarkan balon kateter. Dapat juga karena sterilisasi yang gagal dan teknik septik dan aseptik.
2. Pneumonia Nosokomial
Pneumonia nosokomial dapat muncul, terutama pasien yang menggunakan ventilator, tindakan trakeostomi, intubasi, pemasangan NGT, dan terapi inhalasi. Kuman penyebab infeksi ini tersering berasal dari gram negatif seperti Klebsiella, dan Pseudomonas. Organisme ini sering berada di mulut, hidung, kerongkongan, dan perut. Keberadaan organisme ini dapat menyebabkan infeksi karena adanya aspirasi oleh organisme ke traktus respiratorius bagian bawah. Dari kelompok virus dapat disebabkan olehcytomegalovirus, influenza virus, adeno virus, para influenza virus, enterovirus dan corona virus. 11 Faktor resiko terjadinya infeksi ini adalah :
• Tipe dan jenis pernapasan
• Perokok berat
• Tidak sterilnya alat-alat bantu
• Obesitas
• Kualitas perawatan
• Penyakit jantung kronis
• Penyakit paru kronis
• Beratnya kondisi pasien dan kegagalan organ
• Tingkat penggunaan antibiotika
• Penggunaan ventilator dan intubasi
• Penurunan kesadaran pasien
Penyakit yang biasa ditemukan antara lain: respiratory syncytial virus dan influenza. Pada pasien dengan sistem imun yang rendah, pneumonia lebih disebabkan karena Legionella dan Aspergillus. Sedangkan dinegara dengan prevalensi penderita tuberkulosis yang tinggi, kebersihan udara harus sangat diperhatikan.
3. Bakteremi Nosokomial
Infeksi ini hanya mewakili sekitar 5 % dari total infeksi nosokomial, tetapi dengan resiko kematian yang sangat tinggi, terutama disebabkan oleh bakteri yang resistan antibiotika seperti Staphylococcus dan Candida. Infeksi dapat muncul di tempat masuknya alat-alat seperti jarum suntik, kateter urin dan infus. Faktor utama penyebab infeksi ini adalah panjangnya kateter, suhu tubuh saat melakukan prosedur invasif, dan perawatan dari pemasangan kateter atau infus.
Adapun sumber infeksi tindakan invasif (operasi) adalah :
1. Petugas :
- Tidak/kurang memahami cara-cara penularan
- Tidak/kurang memperharikan kebersihan perorangan
- Tidak menguasai cara mengerjaklan tindakan
- Tidak memperhatikan/melaksanakan aseptik dan antiseptik
- Tidak mematuhi SOP (standar operating procedure)
- Menderita penyakit tertntu/infeksi/carier
2. Alat :
- Kotor
- Tidak steril
- Rusak / karatan
- Penyimpangan kurang baik




3. Pasien :
- Persiapan diruang rawat kurang baik
- Higiene pasien kurang baik
- Keadaan gizi kurang baik (malnutrisi)
- Sedang mendapat pengobatan imunosupresif
4. Lingkungan
- Penerangan/sinar matahari kurang cukup
- Sirkulasi udarah kurang baik
- Kebersihan kurang (banyak serangga, kotor, air tergenang)
- Terlalu banyak peralatan diruangan
- Banyak petugas diruangan.

• Agen Infeksi
Semua mikroorganisme termasuk bakteri, virus, jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection). Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih disebabkan karena faktor eksternal, yaitu penyakit yang penyebarannya melalui makanan dan udara dan benda atau bahan-bahan yang tidak steril. Penyakit yang didapat dari rumah sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada orang normal.
1) Bakteri
Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang sehat. Keberadaan bakteri disini sangat penting dalam melindungi tubuh dari datangnya bakteri patogen. Tetapi pada beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut mempunyai toleransi yang rendah terhadap mikroorganisme. Contohnya Escherichia coli paling banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi saluran kemih. Bakteri patogen lebih berbahaya dan menyebabkan infeksi baik secara sporadik maupun endemik. Contohnya :
 Anaerobik Gram-positif, Clostridium yang dapat menyebabkan gangren
 Bakteri gram-positif: Staphylococcus aureus yang menjadi parasit di kulit dan hidung dapat menyebabkan gangguan pada paru, pulang, jantung dan infeksi pembuluh darah serta seringkali telah resisten terhadap antibiotika.
 Bakteri gram negatif: Enterobacteriacae, contohnya Escherichia coli, Proteus, Klebsiella, Enterobacter. Pseudomonas sering sekali ditemukan di air dan penampungan air yang menyebabkan infeksi di saluran pencernaan dan pasien yang dirawat. Bakteri gram negatif ini bertanggung jawab sekitar setengah dari semua infeksi di rumah sakit.
 Serratia marcescens, dapat menyebabkan infeksi serius pada luka bekas jahitan, paru, dan peritoneum.
2) Virus
Banyak kemungkinan infeksi nosokomial disebabkan oleh berbagai macam virus, termasuk virus hepatitis B dan C dengan media penularan dari transfusi, dialisis, suntikan dan endoskopi. Respiratory syncytial virus (RSV), rotavirus, dan enteroviruses yang ditularkan dari kontak tangan ke mulut atau melalui rute faecal-oral. Hepatitis dan HIV ditularkan melalui pemakaian jarum suntik, dan transfusi darah. Rute penularan untuk virus sama seperti mikroorganisme lainnya. Infeksi gastrointestinal, infeksi traktus respiratorius, penyakit kulit dan dari darah. Virus lain yang sering menyebabkan infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus, Ebola, influenza virus, herpes simplex virus, dan varicella-zoster virus, juga dapat ditularkan.





3) Parasit dan Jamur
Beberapa parasit seperti Giardia lamblia dapat menular dengan mudah ke orang dewasa maupun anak-anak. Banyak jamur dan parasit dapat timbul selama pemberian obat antibiotika bakteri dan obat immunosupresan, contohnya infeksi dari Candida albicans, Aspergillus spp, Cryptococcus neoformans, Cryptosporidium.

• Respon dan Toleransi Tubuh Manusia
Faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat toleransi dan respon tubuh pasien dalam hal ini adalah :
• Umur
• status imunitas penderita
• penyakit yang diderita
• Obesitas dan malnutrisi
• Orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid
• Intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi.
Usia muda dan usia tua berhubungan dengan penurunan resistensi tubuh terhadap infeksi kondisi ini lebih diperberat bila penderita menderita penyakit kronis seperti tumor, anemia, leukemia, diabetes mellitus, gagal ginjal, SLE dan AIDS. Keadaan-keadaan ini akan meningkatkan toleransi tubuh terhadap infeksi dari kuman yang semula bersifat opportunistik. Obat-obatan yang bersifat immunosupresif dapat menurunkan pertahanan tubuh terhadap infeksi. Banyaknya prosedur pemeriksaan penunjang dan terapi seperti biopsi, endoskopi, kateterisasi, intubasi dan tindakan pembedahan juga meningkatkan resiko infeksi.




• Resistensi Antibiotika
Seiring dengan penemuan dan penggunaan antibiotika penicillin antara tahun 1950-1970, banyak penyakit yang serius dan fatal ketika itu dapat diterapi dan disembuhkan. Bagaimana pun juga, keberhasilan ini menyebabkan penggunaan berlebihan dan pengunsalahan dari antibiotika. Banyak mikroorganisme yang kini menjadi lebih resisten. Meningkatnya resistensi bakteri dapat meningkatkan angka mortalitas terutama terhadap pasien yang immunocompromised. Resitensi dari bakteri di transmisikan antar pasien dan faktor resistensinya di pindahkan antara bakteri. Penggunaan antibiotika yang terus-menerus ini justru meningkatkan multipikasi dan penyebaran strain yang resistan. Penyebab utamanya karena:
 Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol
 Dosis antibiotika yang tidak optimal
 Terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat
 Kesalahan diagnosa.
Banyaknya pasien yang mendapat obat antibiotika dan perubahan dari gen yang resisten terhadap antibiotika, mengakibatkan timbulnya multiresistensi kuman terhadap obat-obatan tersebut. Penggunaan antibiotika secara besar-besaran untuk terapi dan profilaksis adalah faktor utama terjadinya resistensi. Banyak strains dari pneumococci, staphylococci, enterococci, dan tuberculosis telah resisten terhadap banyak antibiotikaa, begitu juga klebsiella dan pseudomonas aeruginosa juga telah bersifat multiresisten. Keadaan ini sangat nyata terjadi terutama di negara-negara berkembang dimana antibiotika lini kedua belum ada atau tidak tersedia. Infeksi nosokomial sangat mempengaruhi angka morbiditas dan mortalitas di rumah sakit, dan menjadi sangat penting karena :
• Meningkatnya jumlah penderita yang dirawat
• Seringnya imunitas tubuh melemah karena sakit, pengobatan atau umur
• Mikororganisme yang baru (mutasi)
• Meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotika.
E. Cara Penularan Infeksi Nosokomial
Kuman penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit, seperti; udara, air, lantai, makanan dan benda-benda medis maupun non medis. Terjadinya infeksi nosokomial akan menimbulkan banyak kerugian, antara lain :
• Lama hari perawatan bertambah panjang
• Penderitaan bertambah
• Biaya meningkat
Sumber penularan dan cara penularan terutama melalui tangan dan dari petugas kesehatan maupun personil kesehatan lainnya, jarum injeksi, kateter iv, kateter urin, kasa pembalut atau perban, dan cara yang keliru dalam menangani luka. Infeksi nosokomial ini pun tidak hanya mengenai pasien saja, tetapi juga dapat mengenai seluruh personil rumah sakit yang berhubungan langsung dengan pasien maupun penunggu dan para pengunjung pasien.
Suatu Infeksi dikatakan di dapat rumah sakit apa bila :
1. Pada waktu penderita mulai dirawat di rumah sakit tidak didapatkan tanda-tanda klinik dari infeksi tersebut.
2. Pada waktu penderita dirawat di rumah sakit tidak sedang dalam masa inkubasi dari infeksi tersebut. Tanda-tanda klinik tersesut baru timbul sekurang-kurangnya setelah 3 x 24 jam sejak dimulainya perawatan.
3. Infeksi tersebut bukan merupakan sisa dari infeksi sebelumnya.
4. Bila saat mulai dirawat di rumah sakit sudah terdapat tanda-tanda infeksi dan dapat dibuktikan infeksi tersebut didapat penderita ketika dirawat di rumah sakit yang sama pada waktu lalu, serta belum pernah dilaporkan sebagai infeksi nosokomial (Hasbullah T, 1992).





Pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan penunggu pasien merupakan kelompok yang berisiko mendapat infeksi nosokomial. Infeksi ini dapat terjadi melalui penularan dari pasien kepada petugas, dari pasien ke pasien lain, dari pasien kepada pengunjung atau keluarga maupun dari petugas kepada pasien. Saat ini, infeksi nosokomial di rumah sakit di seluruh dunia lebih dari 1,4 juta pasien rawat inap.

• Pencegahan terjadinya Infeksi Nosokomial
Pencegahan dari infeksi nosokomial ini diperlukan suatu rencana yang terintegrasi, monitoring dan program yang termasuk:
 Membatasi transmisi organisme dari atau antar pasien dengan cara mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan, tindakan septik dan aseptik, sterilisasi dan disinfektan.
 Mengontrol resiko penularan dari lingkungan.
 Melindungi pasien dengan penggunaan antibiotika yang adekuat, nutrisi yang cukup, dan vaksinasi.
 Membatasi resiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur invasif.
 Pengawasan infeksi, identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya.

• Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit
Pembersihan yang rutin sangat penting untuk meyakinkan bahwa rumah sakit sangat bersih dan benar-benar bersih dari debu, minyak dan kotoran. Perlu diingat bahwa sekitar 90 persen dari kotoran yang terlihat pasti mengandung kuman. Harus ada waktu yang teratur untuk membersihkan dinding, lantai, tempat tidur, pintu, jendela, tirai, kamar mandi, dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali. Pengaturan udara yang baik sukar dilakukan di banyak fasilitas kesehatan. Usahakan adanya pemakaian penyaring udara, terutama bagi penderita dengan status imun yang rendah atau bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit melalui udara. Kamar dengan pengaturan udara yang baik akan lebih banyak menurunkan resiko terjadinya penularan tuberkulosis. Selain itu, rumah sakit harus membangun suatu fasilitas penyaring air dan menjaga kebersihan pemrosesan serta filternya untuk mencegahan terjadinya pertumbuhan bakteri. Sterilisasi air pada rumah sakit dengan prasarana yang terbatas dapat menggunakan panas matahari.
Toilet rumah sakit juga harus dijaga, terutama pada unit perawatan pasien diare untuk mencegah terjadinya infeksi antar pasien. Permukaan toilet harus selalu bersih dan diberi disinfektan. Disinfektan akan membunuh kuman dan mencegah penularan antar pasien. Disinfeksi yang dipakai adalah:
 Mempunyai kriteria membunuh kuman
 Mempunyai efek sebagai detergen
 Mempunyai efek terhadap banyak bakteri, dapat melarutkan minyak dan protein.
 Tidak sulit digunakan
 Tidak mudah menguap
 Bukan bahan yang mengandung zat yang berbahaya baik untuk petugas maupun pasien
 Efektif
 Tidak berbau, atau tidak berbau tak enak
Macam-macam penularan infeksi nosokomial bisa berupa :
1. Infeksi silang (Cross Infection) Disebabkan oleh kuman yang didapat dari orang atau penderita lain di rumah sakit secara langsung atau tidak langsung.
2. Infeksi sendiri (Self infection,Auto infection) Disebabkan oleh kuman dari penderita itu sendiri yang berpindah tempat dari satu jaringan kejaringan lain.
3. Infeksi lingkungan (Enverenmental infection) Disebabkan oleh kuman yang berasal dari benda atau bahan yang tidak bernyawa yang berada di lingkungan rumah sakit. Misalnya : lingkungan yang lembab dan lain-lain (Depkes RI 1995).
Menurut Jemes H,Hughes dkk yang dikutip oleh Misnadiarli 1994 tentang model cara penularan, ada 4 cara penularan infeksi nosokomial yaitu :
1. Kontak langsung antara pasien dan personil yang merawat atau menjaga pasien
2. Kontak tidak langsung ketika obyek tidak bersemangat/kondisi lemah dalam lingkungan menjadi kontaminasi dan tidak didesinfeksi atau sterilkan, sebagai contoh perawatan luka paska operasi.
3. Penularan cara droplet infection dimana kuman dapat mencapai keudara (air borne).
4. Penularan melalui vektor yaitu penularan melalui hewan/serangga yang membawa kuman.
Hati-hati dalam menangani ponsel. Bukan karena ponsel mudah rusak, akan tetapi seorang pasien di San Fernando General Hospital terkena bakteri mematikan MRSA yang bersarang di ponselnya. Dr. Hari Maharajh, dari University of The West Indies, mengemukakan “Ponsel sudah seharusnya diperlakukan dan dipergunakan sebagai sebuah alat yang mirip dengan sikat gigi dan lipstik. Tidak seharusnya dipakai bergantian. Sangatlah sulit untuk membersihkan ponsel sebab alat ini cukup rumit.”
Peringatan darinya mendukung sebuah penelitian baru-baru ini di Arizona, Amerika Serikat. Penelitian ini berhasil menemukan hampir seperempat ponsel yang mereka uji dinyatakan positif dijadikan sarang berkumpulnya MRSA (Methicillin-resistant Staphylococcus aureus).
"Kemungkinan MRSA berpindah dari satu orang ke yang lainnya, dalam jumlah besar, tergantung kemampuannya untuk hidup di permukaan benda-benda yang ada," kata Kris Owens dari Ecolab Inc. di Mendota Heights, Minnesota. Dalam penelitian tersebut, terdapat dua kecenderungan tempat hidup MRSA tergantung berbagai tipe permukaan. Para peneliti menemukannya di cat kuku setelah beberapa minggu, permukaan keyboard komputer setelah enam minggu, dan di permukaan kasur setelah berhari-hari.

F. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penularan Infeksi Nosokomial
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi nosokomial. Infeksi pada dasarnya terjadi karena interaksi langsung maupun tidak langsung antara penderita (host) yang rentan mikroorganisme yang infeksius dan lingkungan sekitarnya (Environment). Faktor-faktor yang saling mempengaruhi dan saling berhubungan disebut rantai infeksi sebagai berikut :
1) Adanya mikroorganisme (Agent) yang infeksius mikroba penyebab infeksi dapat berupa bakteri, virus, jamur maupun parasit. Penyebab utama infeksi nosokomial biasanya bakteri dan virus dan kadanga-kadang jamur dan jarang oleh parasit. Peranannya dalam infeksi nosokomial tergantung antara lain dari patogenesis atau virulensi dan jumlahnya.
2) Adanya portal of exit/pintu keluar. Portal of exit mikroba dari manusia biasanya melalui satu tempat, meskipun dapat juga dari beberapa tempat. Portal of exit yang utama adalah saluran pernapasan, daluran cerna dan saluran urogenitalia.
3) Adanya porta of entry / Pintu masuk Tempat masuknya kuman dapat melalui kulit, dinding mukosa, saluran cerna, saluran pernafasan dan saluran urogenitalia. Mikroba yang terinfesius dapat masuk ke saluran ceran melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi seperti: E.coli, Shigella. Mikroba penyebab rubella dan toxoplasmosis dapat masuk ke host melalui placenta.
4) Terdapatnya cara penularan. Penularan atau transmission adalah perpindahan mikroba dari source ke host. Penyebaran dapat melalui kontak, lewat udara dan vektor. Cara penularan yang paling sering terjadi pada infeksi nosokomial adalah dengan cara kontak. Pada cara ini terdapat kontak antara korban dengan sumber infeksi baik secara langsung, tidak langsung maupun secara droplet infection.
5) Penderita (host) yang rentan. Masuknya kuman kedalam tubuh penderita tidak selalu menyebabkan infeksi. Respon penderita terhadap mikroba dapat hanya infeksi subklinis sampai yang terhebat yaitu infeksi berat yang dapat menyebabkan kematian. Yang memegang peranan sangat penting adalah mekanisme pertahanan tubuh hostnya. Mekanisme pertahana tubuh secara non spesifik antara lain adalah kulit, dinding mukosa dan sekret, kelenjar-kelenjar tubuh. Mekanisme pertahanan tubuh yang spesifik timbul secara alamia atau bantuan , secara alamia timbul karena pernah mendapat penyakit tertentu, seperti poliomyelitis atau rubella. Imunitas buatan dapat timbul secara aktif karena mendapat vaksin dan pasif karena pemberian imuneglobulin (Serum yang mengandung antibodi). Lingkungan sangat mempengaruhi rantai infeksi sebagai contoh tindakan pembedahan di kamar operasi akan lebih kecil kemungkinan mendapatkan infeksi luka operasi dari pada dilakukan ditempat lain. ( Wirjoadmodjo B 1993 ).
Selain pembagian faktor-faktor diatas, infeksi nosokomial juga dipengaruhi oleh faktor eksogen dan endogen. Faktor endogen adalah faktor yang ada didalam tubuh penderita sendiri antara lain umur, jenis kelamin, daya tahan tubuh dan kondisi lokal. Faktor eksogen adalah faktor dari luar tubuh penderita berupa lamanya penderita dirawat, kelompok yang merawat, lingkungan, peralatan tehnis medis yang dilakukan dan adanya benda asing dalam tubuh penderita yang berhubungan dengan udarah luar (Roeshadi Joko,1991).
Kondisi-kondisi yang mempermudah terjadinya Infeksi nosokomial Infeksi nosokomial mudah terjadi karena adanya beberapa keadaan tertentu :
1. Rumah sakit merupakan tempat berkumpulnya orang sakit/pasien, sehingga jumlah dan jenis kuman penyakit yang ada lebih penyakit dari pada ditempat lain.
2. Pasien mempunyai daya tahan tubuh rendah, sehingga mudah tertular.
3. Rumah sakit sering kali dilakukan tindakan invasif mulai dari sederhana misalnya suntukan sampai tindakan yang lebih besar, operasi. Dalam melakukan tindakan sering kali petugas kurang memperhatikan tindakan aseptik dan antiseptik.
4. Mikroorganisme yang ada cenderung lebih resisten terhadap antibiotik, akibat penggunaan berbagai macam antibiotik yang sering tidak rasional.
5. Adanya kontak langsung antara pasien atau petugas dengan pasien, yang dapat menularkan kuman patogen.
6. Penggunaan alat-alat kedokteran yang terkontaminasi dengan kuman.
Salah satu bentuk pencegahan infeksi nosokomial dan untuk menjamin keselamatan pasien di rumah sakit, Departemen Kesehatan bekerja sama dengan PT MRK Diagnostic meluncurkan program NICE (No Infection Campaign and Education). Program ini dirancang untuk mengubah perilaku petugas kesehatan di seratus rumah sakit selama Juni 2008 sampai Oktober 2009.
Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Farid W Husain, pada peluncuran program NICE, menyambut baik program NICE yang bertujuan memberi informasi dan kesadaran bagi semua staf di rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lain tentang bahaya dan risiko infeksi yang didapat di RS sekaligus untuk memperoleh data kejadiannya di RS.
Sejauh ini, Depkes telah memiliki program patient safety (keselamatan pasien). Salah satu pilar menuju keselamatan pasien adalah revitalisasi program pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit (PPI RS). Melalui program ini, diharapkan infeksi nosokomial (infeksi yan g didapat dan atau timbul pada waktu pasien dirawat di rumah sakit), dapat ditekan serendah mungkin. Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat menerima pelayanan kesehatan secara optimal.
Infeksi nosokomial seharusnya dapat dicegah dengan strategi yang telah tersedia dan mematuhi protokol yang telah dibuat oleh masing-masing institusi, seperti :
a. mentaati praktik pencegahan infeksi yang dianjurkan, terutama kebersihan tangan serta memakai sarung tangan. pencegahan seperti ini yang sering terlupakan oleh perawat dan profesi lainnya. biasanya mereka mencuci tangan setelah menyentuh pasien dan sering lupa mencuci tangan sebelum ke pasien.
b. memperhatikan dengan seksama proses yang telah terbukti bermamfaat untuk dekontaminasi dan pencucian peralatan & benda kotor, di ikuti dengan sterilisasi dan desinfeksi tingkat tinggi.
c. selalu memperhatikan tehnik asepsis sewaktu melakukan tindakan yang bersifat invasif seperti : Suction endotracheal, melakukan penyuntikan obat-obat pada akes perifer maupun vena central, pemasangan kateter urin,dll.
Seandainya infeksi nosokomial dapat dicegah dan diturunkan ini merupakan keuntungan yang sangat besar pada pasien karena pasien tidak perlu membeli antibiotik yang mahal harganya. Dipihak rumah sakit, dapat menghemat dana operasional atau dialihkan ketempat yang lebih membutuhkannya.
Yang perlu diperhatikan dalam pencegahan Infeksi nosokomial luka Operasi :
a. Sebelum masuk rumah sakit
- Pemerikasaan dengan pengobatan pasien untuk persiapan operasi agar dilakukan sebelum pasien masuk/dirawat di rumah sakit.
- Perbaikan keadaan pasien, misalnya gizi, penyakit DM.
b. Sebelum operasi Pasien operasi dilakukan dengan benar sesuai dengan prosedur, misalnya pasien harus puasa, desinfeksi daerah operasi, klimas dan lain-lain.
c. Pada waktu operasi
- Semua petugas harus mematuhi peraturan kamar operasi.
- Bekerja sesuai SOP (standar operating procedur)
- Perhatikan wantu/lama operasi.
d. Paska operasi Perhatikan perawatan alat-alat Bantu yang terpasang sesudah operasi seperti : kateter, infus, dan lain-lain.
Alkohol (70%) dapat efektif sebagai sanitasi pencegahan MRSA. Quaternary ammonium yang dikombinasi dengan Alkohol juga efektif. Dan perlu dicegah dengan pembersihan rutin ruang-ruang rawat dengan menggunakan Nonflammable Alcohol Vapor in CO2 (NAV-CO2) system atau or sodium hypochlorite adalah zat yang sering digunakan untuk sanitasi ruangan pasien dengan MRSA
Diakhir tahun 2004 Inggris mengkampanyekan "Clean Your Hands campaign" (Kampanye mencuci tangan) dengan alkohol, hibiscrub atau hibisol. Sementara banyak pekerja kesehatan di AS masih melalaikan hal itu sesuai laporan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang melaporkan bahwa bahwa dengan mencuci tangan, maka dapat menyelamatkan 30.000 pasien pertahun dari infeksi nosokomial termasuk MRSA.
Dewan Penasihat Aliansi Dunia mengatakan kebersihan tangan merupakan kunci menurunkan risiko Infeksi Nosokomial. WHO melalui Patient Safety Initiative 2009 juga telah mencanangkan gerakan Save lives: Clean your hands, untuk periode 5 Mei 2009–2020.
MRSA dapat bertahan di benda seperti linen, lantai, tempat tidur, dan alat-alat mandi, sehingga runagan mesti dibersihkan dengan desinfektan dan yang tersulit tentu saja ruangan yang ber AC, udara, botol suction, O2 sentral dan bahkan hp atau komputer pun dapat menjadi media penyebaran MRSA yang tentu saja sulit dihilangkan.
Peran perawat dalam pencegahan infeksi nosokomial tentu saja paling penting, dimana rata-rata setiap harinya 7-8 jam perawat melakukan kontak pershift perhari dengan pasien. Katakanlah 1/2 jam kerja tersebut (4jam) adalah waktu efektif kontak dengan pasien, maka akan menjadi sumber utama terpapar / exposure infeksi nosokomial termasuk MRSA.
Satu penelitian di RSUD Kepanjen di tahun 2003 dengan sample 120 perawat untuk melihat hubungan pengetahuan perawat tentang infeksi nosokomial dan pencegahannya dengan angka prevalensi infeksi nosokomial di RS tersebut memperlihatkan hasil ada hubungan yang kuat dengan indeks korelasi 0,6. Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa peran perawat dalam pengontrolan infeksi nosokomial perlu dioptimalisasi.
Tahapan pencegahan infeksi nosokomial
1. Persiapan penderita pra bedah
- Sebelum pasien dirawat di Rs
- Selama pasien dirawat di Rs
- Pada saat mendekati operasi
2. Persiapan kamar bedah
Pencegahan terhadap penyakit infeksi yang terjadi di rumah sakit dilakukan dengan cara mereduksi sumber kuman, stratifikasi risiko, penerapan kewaspadaan isolasi, strerilisasi alat yang sudah dipakai, pembersihan kain yang sudah tercemar bahan infektif, pembersihan lingkungan yang tercemar, cuci tangan dengan cara yang benar, higiene perseorangan dan vaksinasi hepatitis, serta influenza bagi petugas kesehatan.

G. Surveilans Infeksi Nosokomial
1. Pendahuluan
Kegiatan surveilans Epidemiologi merupakan komponen penunjang penting dalam Setiap program pengendalian infeksi nosokomial. Informasi Epidemiologi yang di hasilkan oleh kegiatan surveylans berguna untuk mengarahkan strategi program baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun pada tahap evaluasi. Dengan kegiatan surveylans yang baik dan benar dapat di buktikan, bahwa program dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
Sehubungan dengan pentingnya peranan surveylans dalma manajemen program pengendalian infeksi Nosokomial, maka pedoman ini disiapkan bagi petugas Rumah Sakit khususnya anggota komite pencegahah dan pengendalian Infeksi untuk membuat program dan melaksanakan surveylans infeksi nosokomial.
Angka infeksi nosokomial yang diperoleh khususnya, di manfaatkan untuk program pengendalian infeksi nosokomial. Pedoman ini memuat pedoman umum kegiatan surveylans beserta contoh-contohnya sehingga memudahkan komite pencegahan dan pengendalian infeksi dalam melaksanakan surveilans.
Definisi surveilans infeksi nosokomial adalah pengumpulan yang sistemik,analisis dan interpretasi yang meneruskan dari data kesehatan yang penting,untuk di gunakan dalam perencanaan penerapan dan evaluasi suatu tindakan yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat, yang didiseminasikansecara berkala kepada pihak-pihak yang memerlukannya.


2. Tujuan dan Kegunaan Surveilans Infeksi Nosokomial
- Menurunkan resiko Infeksi Nosokomial
- Memperoleh data Dasar yaitu tingkat endemisitas infeksi nosokomial
- Sebagai sistem kewaspadaan dini dalam mengidentifikasi kejadian luar biasa(KLB)
- Memenuhi standar mutu asuhan keperawatan dan pelayanan medis yang dapat dipakai sebagai sarana mengidentifikasi terjadinya malpraktek.
- Mengukur dan menilai keberhasilan suatu program pengendalian infeksi nosokomial.
- Meyakinkan para klinisi tentang adanya masalah yang memerlukan penanggulangan.
- Memenuhi standar pelayanan rumah sakit (sebagai satu tolak ukur akreditasi)
- Menurunkan angka infeksi di rumah sakit
Tujuan terpenting dari surveilans infeksi nosokomial adalah menurunkan resiko terjadinya infeksi nosokomial. Untuk mencapai Tujuan ini, maka perlu menentukan Tujuan spesifiknya yaitu : Berorientasi pada outcome adalah kegiatan yang ditujukan pada pemantauan angka infeksi nosokomial (insidens atau prevalens). Orientasi pada outcome ini, adalah Tujuan akhir dari surveilans yaitu menurunkan laju infeksi, angka kesakitan, angka mortalitas dan biaya. Berorientasi pada proses adalah kegiatan surveilans yang ditujukan pada kegiatan / upaya pengendalian (cara cuci tangan, pemasangan infus, pemasangan kateter, ketersediaan alat, dana dan sebagainya).
• Mendapatkan data dasar endemic
Data surveilans infeksi nosokomial di gunakan untuk mengkuantifikasikan rate dasar infeksi nosokomial yang endemis, sehingga dapat diketahui seberapa besar resiko yang di hadapi oleh Setiap pasien yang dirawat di rumah sakit. Sebagian besar (90%-95%) dari infeksi nosokomial adalah endemic. Oleh karena itu kegiatan surveylans infeksi nosokomial dimaksudkan untuk mengurangi angka laju endemic. Caranya adalah dengan melakukan upaya pencegahan yang memadai.
• Mengidentifikasi Kejadian Luar Biasa (KLB)
Bila angka endemic dapat telah dapat diketahui, maka kita dapat mengenali bila terjadi suatu penyimpangan dari angka Dasar tersebut, yang kadang mencerminkan suatu kejadiam luar biasa (“outbreak”) infeksi nosokomial. Sering laporan tentang adanya suatu KLB infeksi nosokomial lebih cepat datang dari seorang dokter atau teknisi laboratorium yang jeli daripada hasil analisis data surveylans para petugas pelaksana Tim PIN. Kelemahan dalam kecepatan waktu ini sering menjadi keterbatasan dari penggunaan data surveylans.
• Meyakinkan Petugas Medis.
Salah satu tantangan dari pelaksaan pengendalian infeksi adalah meyakinkan tenaga medis atau tenaga kesehatan yang lain untuk menerapkan pencegahan infeksi yang di anjurkan seperti halnya kewaspadaan universal atau universal precautions.
Sering kali informasi dari kepustakaan kurang berhasil memaparkan Permasalahan seperti yang mereka hadapi sehari-hari sehingga data surveylans infeksi nosokomial yang di sajikan sendiri oleh rumah sakit yang paling efektif dapat mengubah prilaku sumber daya manusianya. Apalagi jika data surveylans infeksi nosokomial ini disajikan secara baik dan professional, diumpan balikan, diinformasikan secra rutin, dengan cara menarik dengan pihak yang terkait.
• Mengevaluasi sistem pengendalian
Setelah Permasalahan dapat teridentifikasi dengan adanya data surveylans dan upaya pencegahan atau pengendalian telah dijalankan, maka masih diperlukan surveylans secra berkesinambungan guna meyakinkan bahwa Permasalahan yang ada benar-benar telah terkendali. Dengan pemantauan yang terus-menerus, maka suatu upaya pengendalian yang nampaknya rasional kadang akhirnya dapat diketahui bahwa ternyata tidak efektif sama sekali. Sebagai contoh, bahwa perawatan meatus Setiap hari untuk mencegah infeksi nosokomial saluran kemih yang nampak rasional, namun data surveylans menunjukkan tidak ada manfaatnya.
• Memenuhi persyaratan administrasi (seperti akreditasi)
Dengan adanya peraturan yang mengharuskan rumah sakit melakukan surveylans infeksi nosokomial sebagai persyaratan untuk mendapatkan akreditasi, maka sering kali data surveylans hanya di pakai untuk memenuhi peraturan tersebut. Sehingga pengumpulan data surveylans hanya untuk memuaskan surveyor yang datang secara berkala saja, adalah suatu pemborosan sumber daya yang luar biasa tanpa Memberikan manfaat kepada rumah sakit ataupun tenaga yang ada.
• Untuk mengantisipasi tuntutan malpraktek
Dahulu dikhawatirkan bahwa pengumpulan data surveilans infeksi nosokomial dapat dipergunakan sebagai bukti untuk menuntut rumah sakit sehubungan dengan terjadinya infeksi nosokomial. Namun belakangan para ahli hukum dapat menyatakan bahwa dengan adanya surveilans yang baik membuktikan bahwa rumah sakit telah berusaha untuk mengendalikan masalah, bukannya menyembunyikan. Ini merupakan bukti penting untuk melawan tuntutan yang tidak diinginkan.Sebagai tambahan bahwa rekam medik perorangan yang ada pada Komite Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi adalah merupakan rahasia jabatan yang tidak dapat dibeberkan di depan pengadilan. Oleh karena itu data surveilans menjadi penting dan lebih banyak membantu dalam melawan mal praktek, dan jarang sekali akan memberatkan.





Pengertian-Pengertian
1. Survelans infeksi nosokomial:
Pengamatan terus menerus, aktif dan sistematis terhadap kejadian dan penyebaran IN pada suatu populasi serta peristiwa yang mempengaruhi terjadinya infeksi nosokomial.
2. Populasi beresiko
Populasi yang potensial mendapatkan infeksi, misalnya populasi beresiko untuk infeksi saluran kemih adalah semua pasien dengan kateter urin menetap. Tim / Komite Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi terdiri dari anggota multi disiplin di rumah sakit yang bertanggung jawab penuh terhadap pengendalian infeksi nosokomial.
Perawat pengendali infeksi nosokomial (Infection Control Nurse = ICN) adalah perawat yang merupakan anggota Komite Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi dan bertanggung jawab sebagai pelaksana harian pengendalian infeksi nosokomial termasuk kegiatan surveilans epidemologi infeksi nosokomial.
Kejadian luar biasa (KLB)= wabah = epidemic: Timbulnya kejadien penyakit tertentu (mis; insidens ISK) pada area geografis tertentu (mis: rumah sakit ) secara bermakna dan dampak yang nyata dari insidens normal(endemic) penyakit infeksi tersebut.
Endemik : Keadaan dimana suatu penyakit atau penyebab penyakit secara terus menerus tetap ada pada populasi manusia dalam suatu area geografis tertentu(mis;rumah sakit).

Metode Serveilans Infeksi Nosokomial
Menurut metodologinya maka surveilans dapat di kenal beberapa jenis. Jenis surveilans infeksi nosokomial :
1. surveilans komprehensif
2. surveilans selektif
3. surveilans infeksi nosokomial dengan sasaran khusus
4. surveilans infeksi nosokomial terbatas dan periodic
5. surveilans infeksi nosokomial pasca rawat

Kelebihan dan Kelemahan Masing-Masing Metode
Metode Kelebihan Kelemahan
Surveilans komprehensif

Menurut tempat infeksi




Surveilans selektif menurut unit








Bergilir








Surveilans infeksi nosokomial dengan sasaran khusus




Surveilans periodic terbatas





Surveilans pasca rawat

Mendapatkan data dari semua jenis infeksi dari pasien, dapat mengidentifikasi kluster

Lebih murah dan hanya memerlukan sedikit sumber daya, dapat pula dilaksanakan dengan cara bergiliran. Dapat di gunakan untuk mendapatkan data awal sebagai dasar penerapan sistem surveilans rutin.

Fleksibel dan dapat di kombinasi dengan metode lain






Menekankan pasien yang beresiko tinggi hanya memerlukan sedikit SDM




Lebih mudah dan lebih menyingkat waktu di banding surveilans incidence, sedikit SDM, semua unit di rumah sakit pencegahan giliran

Memanfaatkan sumber daya dengan lebih efektif dengan pencegahan yang jelas



Memberikan angka Dasar dengan waktu lebih singkat dibanding dengan incidence



Meningkatkan casefinding secara bermakna

Mahal, padat karya, tidak mungkin di perbandingkan dengan rumah sakit lain

Sering terjadi over restimasi tentang resiko pasien untuk mendapatkan infeksi nosokomial, tidak akurat dalam mengestimasi populasi perbedaan antar kelompok populasi pasien


Mungkin tidak menggambarkan Tujuan pencegahan yang jelas, denominatornya mungkin kurang adekuat, dapat keliru dalam menentukan kluster


Untuk mendapatkan angka Dasar di perlukan surveilans yang berkesinambungan mungkin terjadi kekeliruan kluster

Dapat salah kluster






Tidak mendapatkan angka Dasar





Memungkinkan salah kuster





Menghadapi masalah pada pengurutan waktu dan banyak yang tidak dapat di tindak lanjuti

E . Penerapan Surveilansi Infeksi Nosokomial
Langkah-langkah surveilans infeksi nosokomial :
Identifikasi infeksi nosokomial yang akan diamati rutin melalui kegiatan surveilans.
Perencanaan pengumpulan data.
Pengumpulan data
Pengolahan & penyajian data.
Analisis dan intrepretasi data.
Pembuatan laporan & rekomendasi tindak lanjut serta diseminasi informasi.
Pada awal pelaksanaan surveilans hendaknya semua langkah diatas dikerjakan ,jika surveilans sudah berjalan rutin yang dikerjakan adalah langkah 4-6, namun bila surveilans tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan perlu ditinjau kembali metode surveilans yang diterapkan mulai dari langkah pertama.
Identifikasi Masalah Infeksi Nosokomial.
Berapa sumber yang dapat digunakan untuk identifikasi masalah infeksi nosokomial :
Laporan personil rumah sakit
Pengalaman rumah sakit lain
Tinjauan literature
Melakukan kajian atau pengumpulan data
Pengumpulan data dasar dapat dilakukan di seluruh rumah sakit, tetapi untuk praktisnya dianjurkan untuk mengumpulkan data di ruang perawatan yang di anggap mempunyai resiko tinggi infeksi nosokomial misalnya ruang pearawatan bedah dalam, Kebidanan dan Kandungan, ICU dan ruang lain yang mempunyai resiko terkena infeksi nosokomial, baik disebabkan jenis pelayanan maupun disebabkan karakteristik pasien sendiri.
Langkah selanjutnya adalah :
Menghitung angka infeksi nosokomial :
Rata-rata Insidens Rate ® infeksi nosokomial di rumah sakit, misalnya : Insidens Rate (IR) rata-rata dalam kurun waktu juni s/d oktober 2009=10%. Proporsi masing-masing misalnya : ILO 35%, ISK 35%, Flebitis 20%, dan 10%

Rencana Pengumpulan Data
Menentukan surveilans yang akan dilaksanankan.
Setelah mendapat gambaran angka infeksi nosokomial pelaksana surveilans bersama-sama denga anggota Tim PIN lain menentukan jenis surveilans yang akan dilaksanakan dengan membandingkan hasil survey dengan mambandingkan hasil survey dengan tinjauan literatur atau pengalaman dari rumah sakit lain yang sudah berpengalaman.
Dasar pertimbangan pemilihan jenis surveilans :
Waktu
Tenaga
Visi dan misi rumah sakit
Dasar pertimbangan pemilihan jenis infeksi nosokomial yang akan di amati berdasarkan pengukuran relative .
Populasi pasien dapat di tentukan berdasarkan :
Jenis pelayanan / ruang rawat (bedah dalam, dll)
Faktor resiko spesifik (pasien dengan operasi bersih, pemasangan kateter menetap, dll)
Contoh :
Surveilans rutin seluruh jenis infeksi nosokomial dilakukan di ruang perawatan tertentu saja. Misalnya penyakit anak, dalam , bedah, serta kebidanan dan kandungan atau secara selektiv jenis surveilans dilakukan terhadap infeksi nosokomial tertentu saja, misalnya ILO bersih di beberapa ruang perawatan yng beresiko ILO bersih.
Menetapkan definisi infeksi nosokomial yang akan di gunakan
Menetapkan data pesifik yang akan di kumpul.
Salah satu tujuan pengumpulan data mengukur laju infeksi ( insidens rate) infeksi nosokomial karena itu di butuhkan dua jenis data yaitu data pembilang dan data penyebut.
Data pembilang : data pembilang adalah semua pasien yang terkena infeksi nosokomial. Biasanya informasi minimal yang diperlukan secara rutim adalah :
Data Demografi : nama, umur, jenis kelamin, nomor rumah sakit atau nomor reg. ( data rekam medic ), ruang perawatan /jenis pelayanan dan tgl masuk keluar rumah sakit.
Jenis/lokasi anatomi infeksi serta tgl. Muali timbulnya gejala infeksi Pathogen penyebab
Informasi tambahan yang di butuhkan di tentukan oleh :
Bagaimana data akan di analisis dan di gunakan
Data mudah diperoleh atau tidak
Tenaga cukup atau tidak
Bila secara rutin data yang di inginkan tidak dapat dikumpulkan, lakukan pengumpulan data secara periodic atau sewaktu-waktu sebagai suatu survey atau penelitian. Pada infestigasi KLB dapat di kumpulkan data tambahan yang di butuhkan untuk mengetahui sumber dan cara penularan
Data tambahan yang di butuhkan umumnya adalah :
Nama ahli bedah
Antibiotim yang di gunakan
Faktor resiko
Data yang tidak akan di gunakan jangan di kumpulkan karena akan buang waktu dan tak berguna. Kumpulkan data seminimal mungkin namun mencapai tujuan.
Sumber data :
Sumber primer (utama) yang sering digunakan :
Laporan laboratorium mikrobiologi
Kurva suhu
Catatan pasien, catatan dokter atau perawat (status pasien) catatan obat, laporan personil rumah sakit lainnya, baik lisan maupun tertulis.
Sumber sekunder
Laporan farmasi yang mungkin mengidentifikasikan adanya infeksi (distribusi antibiotic)
Laporan otopsi dan laporan patologi lainnya.
Laporan masuk rumah sakit (diagnosis masuk) yang member informasi adanya infeksi komunitas (masyarakat/infeksi nosokomial) pada waktu di rawat di rumah sakit sebelumnya.
Laporan pemeriksaan radiologi
Laporan pasien setelah pulang (pasca rawat) laporan ini sangat sulit di dapatkan.
Laporan pemeriksaan mikrobiologi dari sampel lingkungan (tidak dianjurkan rutin, dilakukan hanya bila ada indikasi)
Laporan hasil infestigasi atau penelitian.

Pengumpulan Data (Monitoring)
Sumber data :
Laporan laboratorium
Catatan atau status pasien
Kunjungan pasien
Laporan personil rumah sakit.
Identifikasi infeksi nosokomial
Informasikan keruangan-ruangan tentag adanya pengendalian dan surveilans infeksi nosokomial.
Siapkan buku pedoman surveilans/definisi infeksi nosokomial sebagai rujukan penentuan infeksi nosokomial
Siapkan semua formulir pengumpulan data yang di butuhkan :
Daftar isian
Check list proses penerapan kewaspadaan universal, lihat table daftar tilik pengendalian infeksi nosokomial.
Buku catatan untuk mencatat temuan di ruangan yang berkaitan dengan pengendalian infeksi nosokomial.
Lakukan kunjungan ruangan
Cari indikasi adanya infeksi nosokomial dengan melakukan telaah/kajian laporan laboratorium (dapat pula melakukan kunjungna laboratorium) :
Kajian catatan atau status pasien untuk melihat tanda infeksi dan hasil kultur. Bila ada, pasien infeksi nosokomial catat kapan mulai terjadi, dan kapan pasien masuk kerumah sakit.
Jika gejala atau tanggal mulainya tanda infeksi kurang jelas tnyakan dokter atau perawat pasien yang bersangkutan.
Kajian catatan obat untuk melihat pasien dengan antibiotika (kemungkinan infeksi nosokomial)
Kajian kurva suhu untuk mengidentifikasi pasien demam.
Tanyakan pada perawat dan dokter ruangan apakah ada pasien dengan infeksi.
Masalah/kendala pengumpulan data:
Status pasien tidak lengkap baik catatan dokter maupun perawat.
Pemeriksaan laboratoriunm jarang di lakukan.
Pemakaian antibiotika yang kurang rasional.
Jika ada pasien infeksi nosokomial catat pada daftar isian.
sebelumnya (kalau ada ) sudah sembuh atau belum
Sambil melakukan kunjungan ruangan perhatikan apakah ada staf baik perawat , dokter, maupun keluarga pasien yang tidak melakukan standar pencegahan infeksi dengan benar jika ada catatan pada formulir check list penerapan prosedur kewaspadaan universal.
Perhatikan apakah fasilitas / bahan seperti antiseptic,sabun dll. Tidak digunakan dengan benar.
Sewaktu-waktu lakukan wawancara / diskusi dengan perawat ruangan tentag ketersediaan fasilitas untuk tindakan pencegahan infeksi meliputi kemudahan memperoleh,kecukupan persediaan.kemudahan pemakaian dan kenyamanan.





















H. Kerangka Pemikiran





Keterangan :

: Variabel yang diteliti


: Variabel yang tidak diteliti





BAB III.
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yaitu untuk mengetahui tingkat frekuensi dan distribusi penyebaran Infeksi Nosokomial dengan metode Epidemiologi Klinik Deskriptif di Rs. Provinsi Sultra tahun 2009
Metode Penelitian.

B. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan mulai pada tanggal 4 Januari 2010 sampai dengan tanggal 9 Januari 2010.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Rs. Provinsi Sultra, khususnya pada ruang :

 Seruni
 Teratai
 Mawar
 Melati
 Anggrek
 Rekam Medis
 IGD
 Tulip
 Delima
 Asoka


C. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah semua petugas medis, pasien yang berada pada masing-masing ruangan, yaitu : seruni, teratai, mawar, melati, anggrek, rekam medis, IGD, tulip, delima, asoka yang beresiko terkena infeksi nosokomial
2. Sampel
Sampel penelitian ini adalah sebagian penderita Infeksi Nosokomial di berbagai ruangan di Rs. Provinsi Sultra tahun 2009.

D. Teknik Pengumpulan Data
Data yang diambil ada 2, yaitu :
a. Data primer adalah data yang diperoleh dari responden secara langsung melalui wawancara dengan menggunakan kuisioner yang telah berdasarkan variabel penelitian. Meninjau langsung tempat lokasi penelitian.
b. Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari suatu instansi yang terkait dengan lokasi penelitian yaitu di Rs. Provinsi Sultra. Khususnya pada Kabid Informasi dan Rekam Medis serta Kabid Keperawatan.

E. Pengolahan dan Analisa Data
Pengolahan data dilakukan secara manual dan sistem komputerisasi, sedangakn analisis menggunakan presentase dan grafik. Adapun langkah-langkah pengolahan datanya dulakukan sebagai berikut :
1.1 Tahap Editing
Pada tahap ini dilakukan dengan memperhatikan kelengkapan daftar kuesioner, tujuannya agar data yang diperoleh merupakan informasi yang benar.
1.2 Pengkodean
Pengkodean dimaksudkan untuk menyingkat data yang diperoleh agar mudah mengolah dan menganalisis data dengan memberi kode dalam bentuk angka.
1.3 Tabulasi
Pada tahap ini dilakukan pembuatan master tabel dan pemindahan hasil koding ke daftar master tabel.



F. Penyajian Data
Data yang diperoleh akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai dengan narasi secukupnya.

G. Analisis
Analisis data disajikan dalam bentuk narasi dengan menyajikan tabel distribusi frekuensi dan tabel deskriptif.
Adapun variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian, yaitu :
a) Variabel bebas (independent). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Epidemiologi Klinik Deskriptif Infeksi Nosokomial.
b) Variabel terikat (dependent). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Kelalaian Petugas Medis Dalam Melaksanakan Tugasnya.
1. Angka pasien dengan dekubitus
Data pasien dengan dekubitus diperoleh dari ruang perawatan seruni dan teratai. Untuk bulan juli sampai dengan oktober 2009 tetap 0%
2. Angka kejadian infeksi dengan jarum infus.
Data kejadian infeksi dengan jarum infus diperoleh dari ruang perawatan seruni, mawar, melati dan anggrek. Untuk bulan oktober 2009 kejadian infeksi ini ditemukan di ruang seruni dan anggrek. Angka infeksi pada bulan juli 2009 yaitu 2,49%, pada bulan agustus 2009 naik menjadi 4,36% namun pada bulan september 2009 angka ini kembali mengalami penurunan yang signifikan yaitu 0,96%. Bulan oktober 2009 naik lagi menjadi 2,4%. Angka ini menunjukkan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan perawat serta ketersediaan alat dan bahan yang diperlukan untuk pemasangan jarum infus akan menurunkan angka ini.
3. Angka ketidaklengkapan pengisian catatan medik
Angka ketidaklengkapan pengisian catatan medik pada bulan juli 2009 yaitu 4,71%. Terjadi penurunan yang signifikan yakni pada bulan agustus sampai dengan september 2009 masing-masing 0,50% dan 0,31%. Pada bulan oktober 2009 angka ini sedikit mengalami peningkatan sebesar 0,51%. Dari angka tersebut dapat disimpulkan bahwa mutu pelayanan Rs. Provinsi Sultra dalam aspek pengisian catatan medik masih perlu mendapat perhatian.
4. Angka keterlambatan pelayanan pertama gawat darurat
Data pelayanan gawat darurat diperoleh dari instalasi gawat darurat. Dari data bulan Juli sampai Oktober 2009 diperoleh gambaran bahwa pelayanan di instalasi gawat darurat sudah baik sebab angka keterlambatan pelayanan pertama gawat darurat sebesar 0%.
5. Angka infeksi luka operasi
Angka untuk bulan Oktober 2009 diperoleh dari ruang perawatan delima dan tulip dimana pasien pasca bedah dirawat dan merupakan indikator mutu pelayanan keperawatan dan tindakan bedah. Pada bulan Juli 2009 ditemukan infeksi luka operasi yakni 6,25%. Pada bulan Agustus hingga Oktober 2009 terjadi peningkatan yang signifikan yakni masing-masing 4,76%, 8,33% dan 18,88%. Kasus ini ditemukan di ruang delima, sehingga dapat disimpulkan bahwa mutu pelayanan di ruang perawatan tersebut masih perlu dioptimalkan.
6. Angka komplikasi pasca bedah
Mutu pelayanan medis bedah dapat ditentukan oleh ada tidaknya komplikasi pasca bedah. Di Rs. Provinsi Sultra, angka ini diperoleh dari ruang perawatan asoka. Untuk bulan Juli sampai dengan Oktober 2009 angka ini adalah 0%. Dari angka tersebut dapat disimpulkan bahwa mutu pelayanan tindakan bedah dan perawatan luka bedah di ruang tersebut dari bulan Juli sampai dengan Oktober 2009 sudah baik.
7. Angka masa tunggu sebelum operasi elektif
Masa tunggu sebelum operasi elektif adalah waktu yang diperlukan pasien sejak masuk Rs. Provinsi Sultra sampai dilakukan operasi elektif dimana tidak termasuk waktu yang diperlukan untuk pemeriksaan penunjang waktu yang ideal adalah tidak lebih dari 24 jam. Angka ini merupakan indikator mutu pelayanan administrasi pelayanan. Untuk bulan Juli 2009 jumlah pasien yang menunggu lebih dari 24 jam sebelum dilakukan operasi yakni 77,02%. Bulan agustus 2009 angka ini mengalami penurunan menjadi 48,02%, namun terus meningkat sampai 52,45% dan 77,01% pada bulan September dan Oktober 2009.
8. Angka kematian ibu karena eklampsia
Angka kematian ibu karena eklampsia diperoleh dari ruang perawatan delima yang memberikan pelayanan gawat darurat dan tindakan yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan serta pelayanan rawat inap. Untuk bulan Juli sampai dengan Oktober 2009, kasus angka kematian ibu karena eklampsia tidak ditemukan atau 0%.
9. Angka kematian ibu karena perdarahan
Angka kematian ibu karena perdarahan diperoleh dari ruang perawatn delima. Untuk bulan Juli sampai dengan Oktober 2009 angka kematian ibu karena sepsis adalah 0%.
10. Angka kematian ibu karena sepsis
Angka kematian ibu karena sepsis diperoleh dari ruang perawatan delima. Untuk bulan Juli sampai dengan Oktober 2009 angka kematian ibu karena sepsis adalah 0%.
11. Angka perpanjangan masa rawat ibu melahirkan
Angka ini merupakan indikator mutu pelayanan ibu bersalin baik persalinan normal maupun persalinan dengan penyulit dan operasi seksio. Data yang diperoleh dari ruang perawatan delima, pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2009 angka ini terus menurun yaitu masing-masing 17,10%, 13,20%, 6,19% dan 3,13%. Hal ini menunjukkan bahwa diruang perawatan tersebut mutu pelayanan seluruh ibu bersalin sudah sangat baik.
12. Angka kematian bayi dengan berat badan <2000 gr.
Kematian bayi dengan berat badan <200gr menunjukkan mutu pelayanan neonatal. Data orang yang diperoleh dari ruang bayi, selama bulan Juli sampai Agustus 2009, angka kematian ini mengalami peningkatan yaitu masing-masing 54,54% dan 61,53%. Namun, pada bulan september 2009 angka ini menurun drastis menjadi 15,38% atau turun sebesar 46,15% dari bulan Agustus ke bulan September 2009. Namun pada bulan Oktober angka ini kembali naik yakni 42,85%.
13. Angka sectio caesaria
Angka sectio caesaria adalah tindakan bedah obstetri yang dilakukan pada ibu yang akan melahirkan, baik elektif maupun akut, tanpa melihat keadaan anak yang dilahirkan. Angka ini diperoleh dari ruang perawatan delima. Bulan Juli 2009 angka sectio caesaria mencapai angka : 51,31%. Untuk bulan Agustus turun mancapai 28,30%. Bulan September 2009 angka ini kembali lagi yaitu 32,74%. Namun pada Oktober 2009 turun mencapai angka 28,12%.























Lampiran Kuisioner
Identitas Respondens
Nama :
Alamat :
Jumlah Anggota Keluarga :

Kriteria respondens
a. Umur( tahun ) : c. Jenis Kelamin :
17-23 Laki-laki
24-30 Perempuan
31-37
38-44
45-51
52-58
b. Pendidikan d. Pekerjaan
SD Ibu Rumah tangga
SMP Petani
SMA Wiraswasta
Diploma Buruh
Sarjana PNS
Dll.....










Kuisioner Pengetahuan Tentang Infeksi Nosokomial
1. Apakah anda pernah mendengar tentang penyakit infeksi Nosokomial ?
a. Ya b. Tidak
2. Apakah anda tahu arti dari Infeksi Nosokomial ?
a. Ya b. Tidak
3. Apakah anda tahu hal apa saja yang bisa menyebabkan timbulnya penyakit Infeksi Nosokomial ?
a. Ya b. Tidak
4. Apakah menurut anda penyakit Infeksi Nosokomial merupakan penyakit menular ?
a. Ya b. Tidak
5. Apakah anda tahu penyakit Infeksi Nosokomial merupakan penykit berbahaya atau tidak ?
a. Ya b. Tidak
6. Apakah anda tahu bagaimana cara penularan dari penyakit Infeksi Nosokomial ?
a. Ya b. Tidak
7. Apakah anda tahu cara penanggulangan penyakit Infeksi Nosokomial ?
a. Ya b. Tidak
8. Apakah anda tahu penyebab dari penyakit Infeksi Nosokomial ?
a. Ya b. Tidak
9. Apakah anda tahu hal apa saja yang bisa menyebabkan timbulnya penyakit Infeksi Nosokomial ?
a. Ya b. Tidak
10. Apakah anda tahu siapa saja yang dapat terkena penyakit Infeksi Nosokomial ?
a. Ya b. Tidak




DAFTAR PUSTAKA

Ducel, G. et al. Prevention of hospital-acquired infections, A practical guide. 2nd edition. World Health Organization. Department of Communicable disease, Surveillance and Response; 2002
Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit FKUI, Jakarta; 2001
Surono, A. Redaksi Intisari. agussur@hotmail.com
Anonymus. Preventing Nosocomial Infection.Louisiana; 2002
Suwarni, A. Studi Diskriptif Pola Upaya Penyehatan Lingkungan Hubungannya dengan Rerata Lama Hari Perawatan dan Kejadian Infeksi Nosokomial Studi Kasus: Penderita Pasca Bedah Rawat Inap di Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta Provinsi DIY Tahun 1999. Badan Litbang Kesehatan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, Yogyakarta; 2001
Pohan, HT. Current Diagnosis and Treatment in Internal Medicine. Pusat Informasi dan Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Jakarta;2004.

Tidak ada komentar: